Untukmu yang untuh tak tersentuh...

Dear seseorang disana...

Apa kabar?
Aku rindu
Udah makan?
Lagi apa?
Hari ini ngapain aja?
Gimana ngajarnya?
Gimana muridnya?
Ada cerita lucu apa?

Yaaa...
Sepenggal pertanyaan itu suka ingin ku sampaikan padanya.
Padanya yang sudah pernah membawa setengah hati yang entah hilang kemana hingga saat ini..

Aku ingat awal kami bertemu dan bukan pertemuan spesial pastinya.
Dia yang saat itu memposisikan sebagai asisten praktikum yang menjelaskan setiap isi praktikumnya dan aku sebagai praktikannya.
Dia yang "sok" lucu menurutku saat itu seolah membuatku berfikir "sok asik banget sih ini senior", dan untaian kalimat yg menyatakan kalau aku gg suka sama dia.

Tapi entah kenapa, seolah sang alam tidak menginginkan diri ini mengabaikannya. Sang alam pula yang mengabarkan bahwa kami seolah akan terus berurusan. Entahlah mungkin hanya perasaanku saja.

Sampai entah kapan rasa itu mulai singgah, orang yang dlu pernah ku anggap "hanya" sebagai senior mendadak berubah menjadi orang yang keberadaannya selalu ingin ku temui, seolah berbincang dengannya adalah candu, seolah menyapanya adalah kewajiban dan seolah senyumnya adalah pelangi yang indah setelah hujan tiba.
Yaaa...  Perasaan yang aneh!

Hingga kurasa 6 tahun berlalu
6 tahun tanpa sedikitpun aku mampu menjelaskan padanya kalau diri ini rindu, kalau diri ini sayang, kalau diri ini ingin, kalau diri ini marah, kalau diri ini berusaha mengabaikannya, kalau diri ini resah.
Yaaa...  6 tahun tanpa suara.. 😌
6 tahun diri ini hanya mampu mengadu pada-Nya tatkala rasa aneh itu muncul.

Teruntuk kamu disana, seseorang yang mampu mengambil setengah hati ini, apa mungkin kamu itu cinta pertama saya? 

Suatu hari nanti, seandainya diri ini mampu berkata dan menyatakan semuanya. Izinkan aku menyatakan kalau aku adalah salah seorang yg merindukanmu dan berharap enggau pernah merasakan rindu itu juga.
Izinkan saya menggenggam tangan itu dan berkata "tangan inilah yang saya harapkan mendampingi saya menghadapi semua masalah yang ada"
Dan terimakasih untukmu, darimu aku belajar bahwa mencintai dalam diam dan doa mengajarkan keindahan dan senyummu masih yang terindah hingga hari ini.


Dari seseorang yang selalu berharap suatu hari nanti kamu menyadari rindu ini...

                                           Jakarta, 21 oktober 2017
               


Komentar